Tuesday, August 23, 2011

why Putera sold his Sampoerna?

18 Maret 2005 (1 + 8 = 9) Putera Sampoerna menjual 98% atau mayoritas saham HMS senilai Rp 48 Triliun ke PMI. Jumlah saham perusahaan yang dilego sebanyak 1.753.200.000 lembar (1 + 7 + 5 + 3 + 2 = 18, di mana 1 + 8 = 9). Meski terkesan mendadak, ada cerita menarik di balik penjualan itu.

“Memerlukan waktu sekitar 90 hari untuk sampai pada penutupan transaksi jual beli,” kata David Davies, senior vice president corporate affairs Philip Morris International, induk Philip Morris Indonesia, seperti dikutip Kompas.

Tindakan melepas seluruh saham itu tentu sangat mengejutan. Sebab, saat itu HMS sedang berkembang dan pemiliknya tidak dalam kesulitan keuangan. Bahkan kinerja HMS (2004) dalam posisi sangat baik dengan berhasil memperoleh pendapatan bersih Rp 15 triliun dengan nilai produksi 41,2 miliar batang.

Mengapa Putera melepas perusahaan keluarga yang sudah berumur lebih dari 90 tahun ini? Tidak ada jawaban yang pasti.

Tanya Kenapa #1 Mengapa Putera Sampoerna menjual HMS?

So, aku lakukan analisis SWOT..

Faktor Internal (Strenght): Posisi merek yang mantap; Tim manajemen yang kuat; Penentuan harga yg efektif; Dukungan pemasaran yang terarah (iklan); Program distribusi wilayah yang terfokus; Pemahaman Sampoerna yang mendalam tentang bisnis rokok kretek di Indonesia; Mempunyai Corporate Social Responsibility (CSR) yang tinggi; Memiliki modal yang kuat; Culture yang baik.

Faktor Internal (Weakness): Biaya operasional naik, yaitu minyak tanah sebagai bahan bakar untuk alat pengering naik.

Faktor Eksternal (Opportunities): Ekonomi Indonesia sedang tumbuh; Lapangan kerja baru telah banyak tercipta bisa menaikkan daya beli konsumen; Indonesia Negara konsumsi rokok terbesar ke-5 di dunia.

Faktor Eksternal (Threats): Aturan makin ketat seperti UU melarang iklan rokok dan merokok di tempat umum; Cukai makin mahal,; Adanya tariff tambahan; Kota-kota besar menuju bebas rokok (Sydney, Uni Eropa, Amerika, Jakarta, Hongkong); Tidak bisa mengharapkan pasar ekspor karena adanya kebijakan pemerintah di luar negeri untuk membatasi pasar rokok; Ancaman dari YLKI, WITT dan WHO; Semakin banyaknya edukasi tentang bahaya merokok “kanker”; Melemahnya daya beli masyarakat akibat naiknya harga BBM.

Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa HMS memiliki banyak kekuatan, tapi untuk jangka panjang industri rokok tampak kurang berprospek akibat banyaknya ancaman dari lingkungan luar. Grand strategy HMS adalah kombinasi yakni melakukan unrelated diversification dengan masuk ke bisnis lain dan melepas kerajaan rokoknya.

Putera menjual HMS karena industri rokok diprediksi mulai terbenam. Menurut catatan Adrian Rusmana, kepala peneliti BNI Securities, dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan pendapatan perusahaan rokok di Bursa Efek Jakarta (BEJ) berada di bawah level 10%. Akan tetapi, untunglah, saham perusahaan rokok masih diminati investor asing. Hal itu karena likuiditas yang tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar. “Kalau kapitalisasi pasar dan likuiditasnya berkurang, saya kira saham perusahaan rokok tidak akan populer lagi,” kata Adrian. Namun, semua kondisi tadi membuat bisnis rokok sejatinya sudah tak bisa lari ke mana-mana lagi, alias sudah mentok. “Ini industri yang mulai terbenam. Maka, tak mengherankan jika sejumlah pemilik perusahaan rokok memilih mengembangkan usahanya di luar bisnis rokok.”

Mengapa Putera rela menjual HMS? Hal yang paling kasat mata karena tawaran cash-nya cukup menggiurkan alias harga premium. “Banyak yang pertimbangannya ingin dapat uang segera. Mumpung ada yang menawar mahal dan dapat gain besar, why not!” Mungkin ada yang bilang ini pikiran jangka pendek. Toh harus diingat, tawaran bagus belum tentu datang dua kali.

Bila ditilik dari mitos angka 9 yang sangat dipercaya oleh keluarga Sampoerna, bisa jadi keluarga Sampoerna juga percaya pada mitos ”kekayaan tidak akan bertahan hingga tiga turunan”. Karena saat HMS dijual, HMS sedang di bawah kepemimpinan Michael Sampoerna (generasi ke-4, cicit Liem Seeng Tee). Bila dipikir secara logis, pada generasi ke dua, harta masih dibagi hanya untuk ”beberapa” anak dan keluarganya, turun ke generasi ke tiga, harta dibagi ke ”berbagai” anak, keluarga dan turunannya. Turun ke generasi ke empat, harta mulai dibagi ke berbagai anak, turunan, dan turunannya. Semakin banyak anggota keluarga dan keturunan, semakin besar potensi terjadi pertikaian dan perebutan harta keluarga yang terjadi. Namun kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam kondisi internal keluarga Sampoerna.

Tanya Kenapa #2 Visi apa yang terlihat Putera Sampoerna di masa depan?

Putera hanya mengatakan bahwa Ia melihat masa depan industri rokok di Indonesia akan makin sulit berkembang dan Ia ingin menjemput pasar masa depan yang hanya dapat diraihnya dengan langkah kreatif dan revolusioner dalam bisnisnya. Secara revolusioner dia mengubah bisnis intinya dari bisnis rokok ke agroindustri dan infrastruktur.

Ihwal kebangkitan Sampoerna ditandai dengan pembelian Gedung Menara Danamon senilai US$77 juta dari konsorsium Victoria atau Grup Panin. Gedung kembar di Jl. Jend. Sudirman Kav. 45 (4 + 5 = 9), Jakarta Selatan ini bak markas besar Sampoerna. Dari gedung yang kini dinamai Sampoerna Strategic Square inilah semua bisnis baru Grup Sampoerna dikendalikan. Sampoerna mendedikasikan 1,5 hektar lahan untuk dijadikan taman, menjadikan Sampoerna Strategic Square satu-satunya gedung perkantoran di Jakarta dengan taman terluas dan paling peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Mengambil alih 40% saham PT Sumber Graha Sejahtera (SGS), sebuah perusahaan yang bergerak di bisnis kehutanan, kontraktor, pengelolaan gedung, dan perdagangan umum. Akuisisi senilai US$50 juta atau sekitar Rp450 miliar ini dilakukan melalui Three Six Nine Ltd. (369 Ltd.), sebuah special purpose vehicle (SPV). 369 Ltd. (3 + 6 + 9 = 18 = 1 + 8 = 9). merupakan kendaraan investasi keluarga Sampoerna yang didirikan di Republik Seychelles tanggal 5 Januari 2006.

Salah satu pilar bisnis SGS adalah PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk. (SULI) dengan kepemilikan sebesar 27,45%. Namun, upaya Sampoerna menguasai SULI tak berhenti sampai di situ. Sejak penghujung 2006 mereka secara agresif memborong 16,77% saham SULI, lagi-lagi lewat SPV-nya, yakni AC Singapore. Melalui dua cara inilah Sampoerna menjadi pemegang saham pengendali di perusahaan beraset Rp1,45 triliun itu.

PT Sampoerna Agro Tbk. (dulunya bernama PT Selapan Jaya), sebuah perusahaan perkebunan sawit di Palembang ini diakuisisi pada 26 Januari 2007.

Perkebunan tebu dan membangun pabrik etanol di Jawa Timur, bekerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara XI (PTPN XI). Di proyek ini, Sampoerna disebut-sebut berinvestasi US$60 juta, sedangkan PTPN XI US$20 juta.

Di Singapura Sampoerna berkiprah lewat Transmarco Pte. Ltd. Perusahaan yang bergerak di sejumlah bidang industri ini dikelola langsung oleh putra sulung Putera, Jonathan Sampoerna. Selain menjadi distributor perlengkapan telekomunikasi, Transmarco juga bergerak di bidang ritel dan properti. Perusahaan ini dibangun sebagai flagship untuk operasional bisnis di kawasan regional. Transmarco sebenarnya bukan bisnis baru Sampoerna. Perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa saham Singapura ini diakuisisi sejak Agustus 1996. Saat ini kepemilikan Sampoerna di Transmarco mencapai 72% (7 + 2 = 9).Merambah bisnis perjudian dengan mengakuisisi Les Ambassadeurs Casino (Les A) senilai 115 juta poundsterling. Mereka juga mengakuisisi Mansion, sebuah situs judi online.

Sampoerna Capital Pte. Ltd. di Singapura, membeli 20,2% saham Harel Insurance Investment Ltd. Harel yang dikendalikan keluarga Hamburger ini merupakan perusahaan asuransi yang berpusat di Israel.

Momen PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ) benar-benar pas. Perusahaan perkebunan milik keluarga Putera Sampoerna itu listing di bursa saat harga minyak sawit mentah (CPO) sedang menanjak. Keputusan berbisnis perkebunan, terutama tebu dinilai sangat tepat, karena selama ini 40% gula di Indonesia masih diimpor dari luar negeri, padahal sebenarnya Indonesia kaya akan hasil bumi. Pengamat ekonomi

Faisal Basri mengatakan, bisnis-bisnis yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) tahun depan diprediksi akan tertekan. Sementara sektor-sektor usaha pertanian dan perkebunan seperti CPO, karet, kopi, kopra dan kakao (coklat) diyakini cukup memiliki prospek dan akan menjadi primadona pada tahun 2008. Fadhil Hasan, pengamat ekonomi Indef, menambahkan bahwa sektor bisnis yang relatif aman adalah sektor pertanian, perkebunan, komunikasi dan keuangan. Sedangkan pengamat ekonomi Institute of Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan, sektor telekomunikasi tumbuh 12 persen tahun 2007 dan tahun 2008 akan naik lagi.

Putera juga menjajaki Bisnis Telekomunikasi, yaitu dengan mengenalkan brand Ceria melalui bendera PT. Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI). STI punya target yang tak main-main dalam memasarkan layanan telepon tetap nirkabel Ceria. Sampai akhir 2007, STI menargetkan Ceria hadir di seluruh Indonesia. Hal ini diungkapkan Teddy D.S. Putra, Manager Institutional Ceria, pada Seminar CDMA Exhibition 2006, di Jakarta Convention Center. Sampai saat ini, Ceria yang beroperasi pada frekuensi 450 MHz, baru hadir di pelosok Lampung, Bali dan Lombok. Produk ini membidik masyarakat menengah ke bawah, yang selama ini belum terjamah layanan telekomunikasi. Di mana strategi yang dipakai adalah bermain dari ujung dulu, ke tempat di mana pelosok yang tidak terjamah oleh infrastruktur. Jadi dari desa mengepung ke kota. Dijelaskan Teddy, daerah pinggiran justru dipilih untuk memudahkan berkembang. “Kalau awalnya bermain di kota besar seperti Jakarta, untuk pemain baru seperti kita mungkin bisa keinjek-injek.”

Daerah selanjutnya yang akan segera dapat menikmati layanan Ceria adalah kawasan Sumatera Selatan, Jambi, Riau dan Pekanbaru. Target penyebaran ke seluruh Indonesia pada tahun 2007, menurut Teddy memang tidak mudah untuk dicapai mengingat biaya yang sangat besar, serta faktor perijinan dan birokrasi yang cukup rumit. Meski begitu, Teddy menekankan bahwa faktor dana tidak menjadi hambatan utama untuk mewujudkan targetnya.

Strategi lain yang digunakan STI dalam memasarkan Ceria adalah dengan memakai endorsmen Dewi Persik yang sangat dikenal oleh rakyat Indonesia dari kota hingga desa lewat dangdut-nya. Selain itu, STI juga menetapkan harga efektif yang tentu saja murah dan terjangkau bagi warga desa dan pelosok.

Summary

Putera Sampoerna adalah pemimpin yang mampu melihat jauh ke depan. Ia melihat bahwa ke depannya, asap rokok kian menipis. Maka Putera Sampoerna mulai mengalihkan kemudi bisnisnya ke arah agroindustri, infrastruktur dan telekomunikasi. Diliriknya agroindustri, karena Indonesia kaya akan sumber daya alam yang berhubungan dengan pertanian dan perkebunan.

Diet Baru Model Sampoerna

Bagi sejumlah anak perusahaan PT HM Sampoerna, rencana sang induk untuk melepas kepemilikan sahamnya di sejumlah anak perusahaannya ternyata bukanlah berita baru. Seorang direksi di salah satu anak perusahaan Sampoerna mengatakan bahwa rencana itu sudah mencuat tatkala 40% saham PT HM Sampoerna diakuisisi PT Philip Morris Indonesia (PMI) pada awal tahun 2005. Ketika kepemilikan PMI di Sampoerna meningkat hingga 98%, akhir tahun lalu, rencana yang awalnya hanya berupa rumor itu akhirnya benar-benar menjadi kenyataan. 

Sang direktur yang merasa hakulyakin perusahaannya juga termasuk akan dilepas itu mengaku tak habis pikir terhadap rencana pemilik Sampoerna tersebut. “Secara kalkulasi bisnis, rencana PT Philip Morris Indonesia ini memang agak sulit dimengerti,� ujar sang direktur dengan nada kecewa. Namun apa daya, lantaran hanya berstatus sebagai profesional, ia mengaku tak bisa melakukan apa pun kecuali menuruti keinginan sang induk. Jika tak ada halangan, rencana itu akan diresmikan pada RUPS yang akan digelar pada 27 Januari besok. “Paling lambat, pada bulan Maret sudah ada keputusannya,� ujar sang sumber.

Saat ini, ada sekitar 31 perusahaan yang bernaung di bawah PT HM Sampoerna. Menurut data Bursa Efek Surabaya, 18 di antaranya masih terkait dengan bisnis inti. Sisanya merupakan perusahaan yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari jasa perdagangan, teknologi informasi, investasi, properti, makanan dan minuman olahan, percetakan, hingga transportasi. Nah, perusahaan-perusahaan inilah yang “terancam dicoretâ€� dari portofolio Sampoerna. Boleh jadi, rencana pelepasan sejumlah anak Sampoerna itu dikarenakan kinerjanya tidak terlalu bersinar. 

Salah satunya yakni PT Taman Dayu, perusahaan properti di Malang, Jawa Timur. Sejak berdiri pada tahun 1990, developer yang membangun kompleks perumahan mewah seluas 598 hektare itu hingga pertengahan tahun lalu boleh dibilang masih merugi. Itu sebabnya pada 7 April 2005, perusahaan ini menggandeng PT Ciputra Surya (anak perusahaan Ciputra Group) untuk mengelola lahan seluas 400 hektare dari kompleks tersebut dengan sistem bagi hasil. Namun, direksi PMI tampaknya sudah “gerahâ€� melihat performance perusahaan ini. Makanya, bukan tak mungkin, Taman Dayu termasuk anak perusahaan yang bakal dilepas. 

Begitu pula dengan anak perusahaan Sampoerna di sektor pengolahan makanan dan minuman. Usaha yang dikelola oleh PT Sampoerna Food Product Nusantara ini akhirnya dihentikan. Perusahaannya pun berganti nama menjadi PT Citra Investasi Nusa dengan menekuni usaha di sektor perdagangan dan jasa. Tragisnya, operasional perusahaan ini pun akhirnya harus berhenti di tengah jalan. Selain Citra Investasi, anak perusahaan Sampoerna lainnya yang juga terpaksa berhenti adalah PT Wahana Sampoerna yang bergerak di sektor konstruksi. 

Sebenarnya, tidak semua kinerja anak perusahaan Sampoerna “ngos-ngosanâ€�. PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT), contohnya. Perusahaan yang mengelola jaringan minimarket bermerek Alfamart ini nyatanya mampu memberikan kontribusi yang cukup lumayan buat sang induk. Kendati enggan mengungkap total omzet yang diraup Alfamart, Ignatius Didiet Setiadi, Manajer Humas PT SAT, menegaskan bahwa jaringan minimarket ini membukukan pendapatan yang lumayan besar setiap tahunnya. “Kontribusi kami menduduki peringkat ketiga setelah pabrik rokok dan distribusi,â€� ujar Didiet. 

Pada usianya yang ke-26 tahun, saat ini total jaringan toko Alfamart telah mencapai 1.250 gerai. Dari total gerai sebanyak itu, sekitar 70% dikelola langsung oleh SAT. Sisanya dimiliki oleh masyarakat dengan sistem waralaba. Bahkan, berdasarkan hasil survei AC Nielsen tahun 2005, dari total 5.000 minimarket di Indonesia, Alfamart mampu menguasai pangsa pasar sebesar 33%. Penguasaan pangsa pasar sebesar itu mendudukkan Alfamart pada posisi nomor dua setelah Indomaret milik Grup Salim yang menguasai market share sebesar 35%. 

Didiet bahkan berani menjamin, hingga beberapa tahun ke depan, pertumbuhan bisnis minimarket ini masih menggiurkan. Ia merujuk data Apkrindo (Asosiasi Praktisi Konsultan Ritel Indonesia), yang menyebutkan bahwa pertumbuhan omzet minimarket sepanjang 2005 mencapai 35%. “Sektor bisnis mana yang pertumbuhan omzetnya tahun ini bisa mencapai angka itu. Bahkan, dibanding hipermarket dan supermarket, pertumbuhan omzet minimarket jauh lebih tinggi,â€� ujar Didiet. 

Jadi, jangan heran bila dalam tiga tahun--sejak berdiri pada tahun 1989--minimarket ini sudah mampu balik modal. Bahkan, sebelum keputusan menjual Alfamart dicetuskan, manajemen HM Sampoerna sudah setuju untuk membangun sejumlah pusat distribusi dan sales point di berbagai daerah. Sekadar gambaran, pusat distribusi ini nantinya bertugas memasok kebutuhan sekitar 500 minimarket Alfamart yang tersebar di sejumlah daerah. Dan, dalam waktu dekat, yang sudah siap berdiri adalah pusat distribusi di Semarang untuk wilayah Jawa Tengah. 

Selain pusat distribusi, Alfamart juga akan membangun sales point (setingkat di bawah pusat distribusi) yang akan menaungi sekitar 100 toko. “Kami sudah berencana membangun sales point di Purwokerto, Cilegon, dan Malang,â€� ungkap Didiet. 

Oh ya, harap dicatat, sekitar 70% saham Alfamart ini dikuasai oleh PT HM Sampoerna. Sisanya dikuasai PT Sigmantara Alfindo milik Djoko Susanto, yang juga merupakan mantan Direktur PT HM Sampoerna. Selain Alfamart, HM Sampoerna juga memiliki sekitar 23% saham di PT Alfa Retailindo yang mengelola hipermarket Alfa. 

Nah, kendati kinerja kedua perusahaan tadi lumayan kinclong, nyatanya hal itu tak mampu menggoyahkan tekad petinggi HM Sampoerna untuk melepas kepemilikannya. Padahal, menurut Didiet, selain mengandalkan jaringan distribusi Panamas, Sampoerna sebenarnya juga dapat mengandalkan jaringan Alfamart. Betul, produk yang dijual Alfamart tak hanya rokok semata. Namun, dengan ribuan gerainya, Sampoerna bisa menggunakan minimarket ini sebagai jalur distribusi dan alat promosi yang andal. Sayangnya, “Mereka sudah mengumumkan ke BEJ untuk melepas Alfamart,â€� tegas Didiet. 

Selain Alfamart, melalui Panamas, HM Sampoerna juga memiliki anak perusahaan PT Agasam, yang mengelola sejumlah restoran/kafe dan toko merchandise dengan label ‘It’s A Store’. Saat ini, toko yang berdiri sejak tahun 2003 itu sudah memiliki 8 cabang yang tersebar di Jakarta dan Surabaya. Berbagai pernak-pernik merchandise seperti kaus, topi, asbak, dompet, tas (semuanya berlogo huruf A) ada di sini. Menurut Gitardo Hardoyo, General Manager ‘It’s A Store’, untuk membangun satu toko ini dibutuhkan biaya investasi sebesar Rp 500 juta. Dengan penghasilan satu toko minimal Rp 200 juta per bulan, ia optimistis tahun ini seluruh toko tersebut sudah balik modal. 

Gitardo menambahkan, kendati kontribusi buat induk perusahaan sangat kecil, outlet ini sangat menguntungkan. “Kalau tidak, ngapain kami membuka outlet sebanyak itu,â€� ucapnya. Lantas, perihal rencana penjualan perusahaan ini oleh sang induk, Gitardo hanya berkomentar singkat. “Saya akan menuruti perintah atasan. Tapi , untuk sementara ini petunjuk dari atasan adalah tetap menjalankan bisnis,â€� tuturnya. 
Selain di bidang perdagangan, HM Sampoerna juga memiliki berbagai perusahaan investasi di berbagai negara, antara lain Bursa Tobacco Corporation, Sampoerna Investment Corporation, Vinasa Investment Corporation, dan Sampoerna Latin America yang seluruhnya berpusat di British Virgin Islands. 

Lantas, akankah semua itu akan dilepas PT HM Sampoerna? Kita tunggu saja kepastiannya akhir bulan ini.